A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Missing argument 2 for artikel::detail()

Filename: controllers/artikel.php

Line Number: 84

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/stainje1/public_html/v3/system/core/Exceptions.php:185)

Filename: models/app_global_model.php

Line Number: 273

STAIN JEMBER
  • Beranda
  • Indexs Artikel
  • MIGRASI PEKERJA "METU" DI DESA PATOKPICIS KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG (Ahmad Junaidi)
MIGRASI PEKERJA "METU" DI DESA PATOKPICIS KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG (Ahmad Junaidi)
Ditulis oleh : operator - Prodi : -

22 November 2013 - 08:02:34 WIB

Abstract
If we notice more, the people of Malang region’s rapid population are not only caused by nativity, but also from urbanization factor. Urbanization, as it agreed by the experts, is one of the ways to renovate the status. Because of the exchange trade value of the country farm sector, including wage level for the minimally land- farm laborers is far below of the city. The density of the people in the city is shown more because there are many migration workers work in many working sectors. These migration workers usually come from villagers surround the city. Migration workers or metu workers (a name for migration workers at Patokpicis village Wajak Malang region) will be studied in this research, specially that concerned with social changing at Patokpicis. 
Keywords: Pekerja metu, Pranata industri, Perubahan sosial-budaya.

PENDAHULUAN
Salah satu gejala umum yang mencirikan kota-kota di Dunia Ketiga adalah perkembangannya yang sangat pesat. Sekalipun kota-kota besar yang ada sekarang sudah tergolong sangat besar, namun diperkirakan akan berkembang menjadi kota-kota yang lebih besar lagi dalam tahun-tahun mendatang ini . 
Menurut publikasi BPS pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Sekitar 30% dari jumlah tersebut, tinggal di kota atau mempunyai sifat-sifat perkotaan. Dalam dasawarsa terakhir ini, tingkat modernitas atau sifat perkotaan itu berkembang dengan kecepatan rata-rata sekitar 5,5%. Sebaliknya, tingkat pedesaan seperti hamper mandeg, karena berkembang dengan kecepatan rata-rata di bawah 0,8% . 
Kalau laju pertumbuhan kota adalah 5,5%  atau mungkin bisa naik lagi menjadi 6% atau 7% setiap tahun, maka dalam waktu sepuluh atau duabelas tahun mendatang jumlah masyarakat perkotaan akan melebihi angka 50%. Ini berarti bahwa masyarakat Indonesia abad ke-21 adalah masyarakat kota atau mempunyai sifat-sifat perkotaan.
Laju pertumbuhan penduduk tersebut juga tampak jelas di Kabupaten Malang. Pada tahun 2000 luas wilayah Kabupaten Malang tidak kurang dari 2.977,05 km2 . Selama sepuluh tahun, jumlah penduduk Kabupaten Malang juga berkembang pesat, dari 2.098.857 jiwa menjadi 2.244.415 jiwa. Ini berarti telah ada peningkatan sebesar 145.558 (0,67%). Dari perbandingan luas wilayah dengan jumlah penduduk, dapat diketahui tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Malang yaitu 690 jiwa/km2. Wilayah terpadat adalah Kecamatan Kepanjen, dengan tingkat kepadatan 2.046 jiwa/km2. Sedangkan wilayah terjarang adalah Kecamatan Ampelgading dengan tingkat kepadatan 217 jiwa/km2.
Kerapatan (density) penduduk  kota lebih tampak karena banyaknya pekerja migrasi yang bekerja di berbagai sektor pekerjaan. Para pekerja migrasi ini umumnya berasal dari desa-desa sekitar kota. Pekerja migrasi atau pekerja metu inilah yang akan dikaji dalam penelitian ini, khususnya yang berkaitan dengan perubahan sosial yang terjadi di Patokpicis.
Penelitian ini memusatkan perhatian pada:
1.  Faktor apa saja, baik dalam diri, dari dalam desa, maupun dari luar desa, yang mendorong perilaku bekerja metu pada sebagian penduduk Patokpicis? 
2.  Bagaimanakah ragam gaya hidup, pola interaksi industri, solidaritas dan peran industri masing-masing kategori empiris penduduk dalam perubahan industri di Patokpicis?
3.  Akibat-akibat industri apa saja yang terjadi karena banyaknya penduduk yang bekerja metu ke luar Patokpicis, baik pada pranata industri dan ekonomi, pola pelapisan industri?

METODE PENELITIAN
Tahap Pra-Lapangan
Pada tahap pra-lapangan, yang dilakukan adalah: (1) Penyusunan rancangan awal penelitian, (2) Pengurusan ijin penelitian, (3) Penjajakan lapangan dan penyempurnaan rancangan penelitian, (4) Pemilihan dan interaksi dengan responden, dan (5) Penyiapan piranti pembantu untuk kegiatan lapangan.
Tahap Pekerjaan Lapangan
Sepanjang pelaksanaan penelitian, terjadi penyempurnaan menyangkut pusat perhatian penelitian dan metode penelitiannya. Bogdan dan Taylor  memang menegaskan agar para peneliti industri mendidik (educate) dirinya sendiri. “To be educated is to learn to create a new. We must constantly create new methods and new approaches”.
Pemilihan responden mengikuti pola bola salju (snow ball sampling). Dengan snow ball sampling ditemukan sebanyak 25 orang, yakni, 14 orang penduduk asli pekerja metu, 6 orang penduduk asli bukan pekerja metu, dan 5 orang penduduk pendatang pekerja metu.
Teknik pengumpulan datanya adalah wawancara, pengamatan, dan telaah dokumen. Wawancara dilaksanakan secara simultan dengan pengamatan. Kadang-kadang wawancara merupakan tindak-lanjut dari pengamatan. Penelaahan dokumentasi dilakukan khususnya untuk mendapatkan data konteks. Kajian dokumentasi dilakukan terhadap catatan-catatan, arsip-arsip, dan sejenisnya termasuk laporan-laporan yang bersangkut paut dengan permasalahan penelitian. Pemeriksaan keabsahan (trustworthiness) data dilakukan dengan empat kriteria sebagaimana dianjurkan oleh Lincoln dan Guba . 
Dalam penelitian ini, penempatan teori lebih mengikuti anjuran Bogdan dan Taylor . Menurut mereka, teori memberikan suatu penjelasan atau kerangka kerja penafsiran yang memungkinkan peneliti memberi makna pada kekacauan data (morass of data) dan menghubungkan data dengan kejadian-kejadian dan latar yang lain. Karena itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetengahkan temuannya dengan perspektif teoretik lain, khususnya selama tahap pengolahan data penelitian yang intensif.
Tahap Pasca Lapangan
Telah disinggung bahwa penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata orang baik tertulis maupun lisan dan tingkah laku teramati, termasuk gambar . 
Walau peneliti tidak sependapat dengan teknik-teknik analisis data kualitaif menurut Miles dan Huberman , model analisis interaktif yang digambarkannya sangat membantu untuk memahami proses penelitian ini. Model analisis interaktif mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu, pengumpulan data, penyederhanaan data, pemaparan data, dan penarikan dan pengujian kesimpulan.
Mengacu model interaktif, analisis data tidak saja dilakukan setelah pengumpulan data, tetapi juga selama pengumpulan data. Selama tahap penarikan kesimpulan, peneliti selalu merujuk kepada “suara dari lapangan” untuk mendapatkan konfirmabilitas.
Pada setiap akhir pengamatan atau wawancara, dicatat hasilnya ke dalam lembar catatan lapangan (field notes). Lembar catatan lapangan ini berisi: (1) teknik yang digunakan, (2) waktu pengumpulan data dan pencatatannya, (3) tempat kegiatan atau wawancara, (4) paparan hasil dan catatan, dan (5) kesan dan komentar. 
Empat teknik analisis data kualitatif sebagaimana dianjurkan oleh Spradley  diterapkan dalam penelitian ini. Masing-masing adalah: (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis), dan (4) analisis tema budaya (discovering cultural themes).
Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan mendahulukan kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari pengamatan, sebagian warga asli Patokpicis mengembangkan kepercayaan bahwa mereka tidak akan berhasil bila berusaha di kampungnya sendiri. Banyak contoh dan kasus mereka ajukan. Intinya, kalau ingin berhasil, para tukang dan calon tukang dari Patokpicis harus bekerja di luar kampong sendiri.
Dalam pandangan interaksionisme simbolik, dua kepercayaan tersebut dapat disebut sebagai pandangan bersama (shared perspective). Khusus mengenai tolok ukur keberhasilan dalam berusaha, mereka menggunakan makna bersama (shared meaning) berupa keberhasilan ekonomis. Dengan pandangan dan pemaknaan bersama tersebut, sebagian warga asli Patokpicis dipandang telah memiliki kesiapan (readiness/predisposition) untuk melakukan mobilitas ke luar Patokpicis.
Ditopang oleh keadaan obyektif di Patokpicis, khususnya sektor pertanian yang tidak memberi harapan dan daya tarik kota, banyak warga asli Patokpicis yang melakukan mobilitas geografis. Sebagian kecil bersifat permanen dan musiman, sedang sebagian besar melakukan mobilitas geografis secara ulang-alik atau bekerja ke luar Patokpicis dengan secara tidak permanen.
Selain mengandung sisi positif bagi penghidupan dan kehidupan manusia, kehadiran industri juga berimplikasi pada penderitaan sebagian umat manusia. Dalam tradisi pemikiran Marxis, salah satu sumbangan luar biasa abad industri adalah munculnya kota industri. Kota industri menampilkan perbedaan tajam dalam apa yang sekarang disebut gaya hidup. Di satu pihak, ada sekelompok kecil penduduk yang menikmati keuntungan-keuntungan baru adri perluasan teknologi dan, di sisi lain pihak, ada sejumlah besar pekerja yang kondisi penghidupannya sangat menyedihkan.
Dihadapkan pada kenyataan yang ada, sebagian warga asli Patokpicis memilih bekerja metu sebagai tindakan yang paling menguntungkan. Dalam konteks ini, tipologi ideal tindakan industri menurut Weber bisa digunakan untuk meneropong perilaku bekerja metu. Menurut Weber, ada dua jenis dasar tindakan industri, yaitu: tindakanrasional dan tindakan tidak rasional. Jenis tindakan rasional  terbagi menjadi dua sub jenisj yaitu tindakan rasional instrumental dan tindakan rasional berorientasi nilai. Tindakan tidak rasional dibagi menjadi dua, yaitu tindakan afektif dan tindakan tradisional .
Dalam perspektif ini, bekerja metu merupakan tindakan rasional instrumental yang ditempuh oleh sebagian penduduk asli Patokpicis. Penduduk asli Patokpicis menyiasati involusi pertanian (agricultural involution) menurut Geertz  dengan bekerja metu, sedang penduduk pendatang menyiasati involusi perkotaan (urban involution) menurut McGee  dengan tinggal di kawasan pinggir kota.
Karena perbedaan nilai tukar dagang (terms of trade) kota-desa cukup berarti, para pekerja metu yang sebagian besar bekerja menjadi tukang bangunan atau pembantu tukang cenderung bisa menyisihkan pendapatannya. Tidak seluruh penghasilan dikonsumsi secara langsung. Dengan “tabungan” tersebut, para pekerja metu bisa membenahi rumahnya, membiayai pendidikan anak-anaknya, dan membeli berbagai barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier. Secara ringkas, status ekonomi para pekerja metu mengalami kenaikan.
Selain itu, kontak industri dan budaya para pekerja metu dengan dunia luar mengalami perluasan dan pendalaman. Wawasan, irama dan sikap, serta gaya hidup mereka mengalami perubahan. Berkenaan dengan perubahan pola pelapisan industri di Patokpicis, juga tergambar jelas dimensi-dimensinya.
Umum dipahami bahwa stratifikasi industri berhubungan erat dengan tatanan ekonomi, politik dan budaya. Tatanan ekonomi berhubungan dengan dimensi privelese, tatanan budaya dengan dimensi status atau kehormatan, dan tatanan politik dengan dimensi kekuasaan .
Dari segi ekonomi, tanah di pedesaan menjadi harta yang tidak tergantikan. Penelitian Soekartawi  di desa-desa marginal di Jawa Timur masih mendukung pernyataan itu. Begitu penting kedudukan tanah sebagai harta yang tidak tergantikan, sehingga di saat harus memilih antara mengolah tanah atau sekolah, mereka akan memilih yang pertama.
Secara hipotetik, keterdesakan sektor dan komunitas pertanian di kawasan pinggiran kota akan tercermin dalam pilihan pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan tanah. Menyimak makin banyaknya penduduk Patokpicis yang menjual tanah untuk keperluan lain, menunjukkan bahwa bagi banyak penduduk Patokpicis tanah bukan lagi harta yang taktergantikan. Tanah sebagai harta modal bisa digantikan dengan kecakapan dan ijazah, atau barang-barang modal yang lain.
Dari dimensi budaya, status dan kehormatan sebagai petani, meskipun pemilik tanah, makin merosot. Ini tercermin dari makin sedikitnya kaum muda yang menetapkan petani sebagai pilihan matapencahariannya. Tampaknya, penghargaan ekonomis terhadap produk sektor pertanian yang makin menurun juga berdampak pada makin menurunnya gengsi petani sebagai matapencaharian.
Dari dimensi politik, ketakberdayaan kaum petani di kawasan pinggir kota mencerminkan kecenderungan umum. Secara makro, ketidakberdayaan kaum petani tercermin dalam citranya yang tidak neko-neko. Padahal, begitu banyak keharusan dikenakan kepada mereka, mulai dari menanam jenis dan bibit tanaman, menggunakan pupuk dan obat-obatan, mengikuti pola pengairan, menjadi anggota koperasi, hingga menjual hasil kepada pihak dan dengan harga tertentu tidak pernah ditentang secara fisik.
Dalam sorotan James , para petani adalah sosok lemah berdunia dua. Menurutnya, dunia perilaku kaum petani boleh saja diduduki penguasa. Namun, dunia batin mereka tetap utuh menjadi milik mereka. Jadi, ketika harus berhadapan dengan kekuasaan, perlawanan mereka tidak lebih berbentuk kekerasan simbolik (symbolic violence). Inilah senjata kaum lemah (weapons of the weak).
Ada ragam bentuk kekerasan simbolik. Bisa berupa plesetan atas berbagai singkatan program pembangunan, pepe di halaman kantor pejabat, memenangkan bumbung kosong saat pemilihan Kepala desa, atau yang paling keras, membakar tanamannya sendiri.
Karena ketiadaan sejarah kekerasan fisik oleh kaum petani, sangat wajar banyak pihak menilai aksi unjuk rasa kaum petani sebagai yang agak luar biasa. Karena itu, kalau ada gejala para petani sekarang berani melakukan protes secara terbuka, pasti ada masalah yang lebih mendasar dan penting.
Sekedar contoh, temuan penelitian tentang KUD di sebuah kabupaten di Jawa Timur bisa menjelaskan, mengapa sasarannya justru KUD. Tak lain karena keberhasilan KUD belum mampu member kemanfaatan langsung bagi mayoritas kaum petani, yang nota bene adalah anggota KUD.
Sering dikemukakan, setiap rencana pembangunan nasional diprasyarati oleh pembenahan sektor pertanian. Logikanya sederhana, keberhasilan sektor pertanian ini akan member surplus, yang penggunaannya tidak hanya untuk komunitas dan sektor pertanian, tetapi juga disalurkan ke luar. Dalam konteks ini, sektor industri merupakan salah satu sasaran penyaluran surplus tersebut.
Dalam kerangka pikir seperti itu, pendekatan kaum modernis yang mementingkan pertumbuhan ekonomi mendapat tempat utama. Karena pertumbuhan ekonomi menjadi sasaran utama, maka pemerataan tersisih sebagai factor koreksi. Bila terpaksa harus dipilih, niscaya pertumbuhan akan lebih diprioritaskan. Dengan kata lain, sektor pertanian pedesaan harus tunduk menerima pelbagai intervensi dan introduksi inovasi. Para petani harus melakukan tindakan tertentu demi swasembada pangan dan surplus bagi komunitas dan sektor industri.
Semangat berlebih untuk menjadikan sektor pertanian sebagai latar belakang atau sekedar catatan sejarah pembangunan bisa berubah menjadi nafsu yang menuntut korban berupa komunitas dan sektor pertanian. Tidak hanya itu, komunitas perkebunan dan sektor pertanian juga menanggung beban sektori jasa, termasuk pelayanan public. Atas nama pertumbuhan dan stabilitas, nilai tukar produk pertanian harus dikendalikan agar tetap terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena itu tidak mengherankan bila pola hubungan desa-kota bergeser, dari bersifat mutualitas menuju parasitis.
Berkenaan dengan aspek-aspek perubahan sosial di Patokpicis, menarik untuk diajukan pertanyaan: Ke arah manakah perubahan nilai-nilai budaya dan organisasi sosial itu? Menurut Koentjaraningrat , nilai budaya merupakan factor mental yang menentukan perbuatan seseorang atau sekelompok orang di masyarakat. Dengan mengikuti klasifikasi yang diberikan Spranger, nilai budaya dipilah menjadi enam kelompok, yaitu: nilai teori (T), nilai ekonomi (E), nilai solidaritas (Sd), nilai agama (A), nilai seni (S), dan nilai kuasa (K) (Alisyahbana, 1981). Tiga nilai yang pertama, masing-masing merupakan lawan dari atau berkorelasi negative dengan tiga nilai yang terakhir.
Nilai teori (T) mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang bertindak terutama atas pertimbangan-pertimbangan rasional. Nilai ini dianggap berlawanan dengan nilai agama (A), yaitu nilai budaya yang mendasari perbuatan-perbuatan berpertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu benar.
Apabila pertimbangan utama yang mendasari tindakan seseorang atau sekelompok orang adalah keuntungan financial sebagai akibat perbuatannya, maka nilai budaya yang mendasari perbuatan tersebut adalah nilai ekonomi (E). Nilai ekonomi (E) dianggap berlawanan dengan nilai seni (S), yakni nikai budaya yang mempengaruhi tindakan seseorang atau sekelompok orang terutama atas pertimbangan rasa keindahan atau rasa seni, yang terlepas dari pertimbangan-pertimbangan material.
Apabila perbuatan seseorang atau sekelompok orang terutama didasarkan pada pertimbangan bahwa orang dekatnya juga berbuat demikian, tanpa menghiraukan akibat perbuatan itu terhadap dirinya sendiri, maka nilai budaya yang mendasari perbuatan tersebut dinamakan nilai solidaritas (Sd). Nilai ini dianggap berlawanan dengan nilai kuasa (K), yaitu nilai budaya yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang terutama atas pertimbangan baik-buruk untuk kepentingan diri atau kelompoknya sendiri.
Walau seseorang atau sekelompok orang mungkin mendasarkan perbuatannya terutama atas satu atau beberapa gabungan nilai budaya, sehingga sulit ditarik garis pemisahnya secara tegas, kiranya dapat diterima bahwa nilai budaya yang dominan pada masyarakat tradisional adalah nilai solidaritas (Sd), nilai agama (A) dan nilai seni (S), sedangkan pada masyarakat modern, nilai budaya yang dominan adalah nilai teori (T), nilai ekonomis (E) dan nilai kuasa (K).
Mengamati perilaku masyarakat Patokpicis, tampak sangat sulit untuk menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang mengalami penguatan dan mengalami kemunduran. Makin banyak jenis tindakan dan jumlah warga Patokpicis yang melakukan perbuatan atas pertimbangan-pertimbangan rasional.
Hilangnya kepercayaan perhitungan dino lan sasi dan berbagai ritual serta selamatan-selamatan tertentu seperti methik dan wiwit berdasar mitologi Dewi Sri. Semakin berubahnya pemahaman warga Patokpicis terhadap ritual ibadah yang kemudian lebih dianggap sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur menunjukkan rasionalisasi yang dilakukan oleh warga Patokpicis.
Secara permukaan, kegiatan keagamaan di Patokpicis masih tetap semarak. KArena keterbatasa waktu peneliti saja, maka persoalan menarik tentang apakah nilai-nilai keagamaan ikut membentuk pola perilaku sehari-hari mereka tidak bisa didalami dalam penelitian ini. Namun demikian sangat jelas bahwa nilai budaya teori makin menguat di kalangan masyarakat Patokpicis.
Dengan tegas dapat dikemukakan bahwa nilai budaya ekonomi (E) telah berkembang sangat pesat di kalangan warga Patokpicis. Dewasa ini tolong menolong dalam mengerjakan sawah sudah sangat langka. Pranata-pranata dalam masyarakat agraris tradisional seperti ngenger utawa ngawulo, biyodo, soyo, aging, maro, majek, bawon, nggadhu dan sejenisnya hilang digantikan oleh system magang, upah, sewa dan tebasa. Demikian juga, makin sulitnya para petani mencari tenaga kerja muda sebagai buruh di sektori pertanian mencerminkan makin menonjolnya nilai budaya ekonomi sebagai pertimbangan dalam tindakan. Penguatan pada nilai-nilai budaya ekonomi ini telah mendesak nilai-nilai seni, sehingga makin sdikit jumlah orang yang bertindak tanpa pertimbangan untung rugi secara financial.
Nilai budaya kuasa (K) juga cenderung meningkat di kalangan warga Patokpicis. Makin tampak perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang terutama didasarkan atas pertimbangan baik buruk untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya sendiri. Perubahan dari biyodo sebagai pranata tolong menolong menjadi transaksi ekonomi dengan upah tertentu, ketidakhadiran diri para pekerja metu dalam berbagai acara sosial dan hajatan karena lebih mementingkan kelangsungan pekerjaan dan penghasilannya, merupakan cerminan makin menguatnya nilai budaya kuasa.
Sedangkan nilai budaya solidaritas, tampak mengalami perubahan perwujudan. Sebelumnya, penduduk Patokpicis memiliki homogenitas pola relasi sosial yang dilatarbelakangi oleh relative samanya pekerjaan dan kedudukan, adat istiadat dan agama yang menyatukan anggotanya. Hal ini mengakibatkan ikatan sosial di antara mereka menjadi sangat kuat. Individu-individu melebur ke dalam kebersamaan. Begitu kuat kebersamaan itu, seolah-olah tidak ada bidang dan orang yang bisa diceraikan dari kebersamaan. Mereka memiliki gaya hidup relative sama dan identitas sosial yang sangat kuat.
Dengan bertambahnya penduduk dan komunikasi dengan dunia luar, masyarakat agraris Patokpicis mengalami proses diferensiasi sosial, termasuk munculnya jenis-jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak dikenal. Ikatan solidaritas menjadi terpecah menjadi bagian-bagian. Ini tampak dalam solidaritas yang lebih besar pada kelompok-kelompok yang berlatar belakang sama atau berkepentingan sama. Misalnya, para pekerja metu lebih solider dengan sesame pekerja metu, para peternak ayam lebih solider dengan sesame peternak ayam dan sebagainya. Sejalan dengan makin menguatnya nilai kuasa, tidak berlebihan bila disimpulkan bahwa nilai budaya solidaritas mengalami pergeseran dari bersifat mekanistis menjadi solidaritas organis menurut Durkheim.
Dari kasus ini tampak pula titik temu antara nilai budaya kuasa versus solidaritas dengan solidaritas mekanis versus solidaritas organis. Dominannya nilai budaya solidaritas membentuk solidaritas mekanis dan bentuk masyarakat paguyuban. Sedangkan nilai budaya kuasa, membentuk solidaritas organis dan bentuk masyarakat patembayan. 
Dengan ungkapan lain, masyarakat Patokpicis sekarang telah mengarah ke system sosial yang disemangati oleh nilai budaya ekonomi, teori dan kuasa dengan wujud sikap dan perilaku yang memperhitungkan keuntungan, penalaran dan kepentingan dengan tatanan masyarakat patembayan.

KESIMPULAN
Secara subyektif, perilaku pekerja metu di kalangan penduduk asli Patokpicis didorong oleh mitos bahwa bekerja di kampung sendiri tidak akan berhasil. Secara obyektif, perilaku bekerja metu penduduk asli Patokpicis didorong oleh kenyataan bahwa pekerjaan bidang pertanian tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan hidup, dan kenyataan bekerja di luar Patokicis memberikan keuntungan ekonomi dan sosial yang memadai. Para pekerja metu asli Patokpicis, menghayati perilaku bekerja metu sebagai siasat untuk menghadapi kemunduran (involusi) yang terjadi di Patokpicis.
Para pekerja metu asli Patokpicis bergaya hidup campuran antara masyarakat asli bukan pekerja metu yang lokalit dan pendatang pekerja metu yang kosmopolit. Bangunan, tata ruang dan perabotan rumah mereka merupakan campuran unsur modern dengan tradisional. Struktur internal keluarga dan eksternal kekerabatan sudah modern dengan basis keluarga inti. Daur hidup keseharian mereka relative merutin dan terjadwal. Solidaritas dengan sesama pekerja metu asli Patokpicis sangat tinggi. Partisipasi sosial mereka tidak selalu berbentuk kehadiran diri, menghargai jasa orang lain dengan uang, walau tidak resmi mereka berpakaian cukup modern, berkomunikasi secara lebih egaliter dan memiliki rasa percaya diri cukup tinggi. Dengan kekayaan pengalaman dan ketercukupan secara ekonomis, para pekerja metu asli Patokpicis mendapat posisi terhormat (kajen). Dengan sikap penuh pengertian, merasa ikut prihatin, dan rasa persaudaraan, para pekerja metu asli Patokpicis mendapat dapat diterima (ketrima). Karena itu, mereka termasuk ke dalam kelompok masyarakat yang terpakai (ketengen). Kedudukan ketengen ini menyebabkan peran mereka dalam perubahan sosial tidak dapat diabaikan. Dalam batas tertentu, mereka adalah para pelopor perubahan sosial di kampungnya.
Kedudukan para pekerja metu asli yang makin ketengen telah mempercepat perubahan sikap hidup yang seperlunya (sak perlune), sesempatnya (sak kobere), semampunya (sak kuate), dan perilaku sewajarnya (sak benere), semaunya (sak penake), dan seumumnya (sak umume). Sikap hidup tersebut telah mempercepat perubahan nilai-nilai dan kepercayaan, pranata sosial dan ekonomi, serta pola pelapisan sosial. Nilai budaya ekonomi, teori dan kuasa makin menguat dan mendesak nilai budaya seni, agama dan solidaritas. Masyarakat Patokpicis sedang bergerak dinamis menuju system sosial bersendi pertimbangan keuntungan, penalaran dan kepentingan dengan tatanan masyarakat patembayan. Perilaku bekerja metu juga mengakibatkan pola mobilitas sosial yang khas, yaitu: (1) masuknya individu-individu pekerja metu yang sebelumnya mendudukiderajat sosial rendah ke dalam strata sosial ekonomi yang lebih tinggi, dan (2) turunnya derajat sekelompok individu bukan pekerja metu, khususnya yang bertahan di sektor pertanian, yang sebelumnya menduduki derajat sosial ekonomi relatif tinggi, ke dalam strata sosial ekonomi yang lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang. 2001. Kabupaten Malang dalam Angka.
Bogdan, and Taylor, Steven J. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods: A Phenomenological Approach to the Social Sciences, John Wiley & Sons, New York.
Geertz, Clifford. 1963. Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia. Berkeley: University of California Press, 1963. 
Koentjaraningrat. 1958. Metode-metode Anthropologi dalam Penjelidikan-penjelidikan Masjarakat dan Kebudajaan di Indonesia. Jakarta: Penerbitan Universitas.
Lawang, R. M. Z.. 1985. Sistem Sosial Indonesia, Modul Universitas Terbuka. Jakarta: Penerbit Karunika Jakarta.
Lincoln, Yvonna S. and Guba, Egon G. 1985. Naturalistic Inquiry.  Beverly Hills, California: Sage Publications. 
Manning , Chris dan Effendi, Tadjuddin Noer. Ed. 1985. Urbanisasi, Penganguran dan Sektor Informasi di Kota. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Gramedia, 
Miles, M. B. and Huberman, A. M. 1987. Qualitative Data Analysis: A Source of New Methods. Beverly Hills: Sage Publications.
Prisma, No. 7, Juli 1980.
Spradley, James P. 1979. Participant Observation. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Todaro, Michael P. and Stilkind, Jerry. 1981.  City Bias and Rural Neglect: The Dilemma of Urban Development. New York: The Population Council.
Zanden, James W. Vander. 1990. Sociology: The Core. New York: McGraw-Hill Publishing Company. 

LINK TERKAIT
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 162921 kali
FLAG TRAFFIC
    Flag Counter